Minggu, 15 Januari 2017

Pertemuan 5 : Menentukan Jenis Kampanye Keselamatan Jalan Yang Akan Dilakukan


Tujuan : Survei pendahuluan merupakan hal yang harus dilakukan pada saat akan melakukan rancangan kampanye keselamatan. Seperti yang dilakuakn oleh Taruna PKTJ yang melakukan survei pendahuluan di simpang kardinah untuk mengetahui pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakat khususnya di kota tegal yang melewati simpang tersebut. 

Dasar Hukum
1.   UU No. 22 Tahun 2009
2.   Instruksi Presiden RI Nomor 4 Tahun 2013 tentang Program Dekade Aksi Keselamatan Jalan
3.   Panduan Keselamatan Jalan
4.   RUNK Jalan 2011 – 2035
5.  Sosialisasi Keselamatan Jalan – PT TRIDAYA CIPTA UTAMA – PERHUBUNGAN DARAT 2008
6.   Review Rencana Umum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan – PT Aulia Sakti Internasional
7.   Pasal 114 UU No. 22 Tahun 2009 LLAJ
8. UU No. 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian PM 24 Tahun 2015 tentang Standar Keselamatan Perkeretaapian

PEMBAHASAN
Simpang kardinah merupakan titik pertemuan arus dari Kota Tegal dan Kabupaten Tegal. Survei dilakukan pada jam 06.30 – 08.00 WIB dengan mantau dan mencatat pelanggaran yang dilakukan masyarakat di simpang tersebut. Anggota survei sendiri merupakan taruna Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan kelas MKTJ A. anggota kelas di bagi kedalam 4 (empat) kelompok, dan masing-masing kelompok bertugas dalam 1 kaki simpang, berikut merupaka data hasil survei pendahuluan. Dari hasil survei pendahuluan perilaku pengguna jalan yang dilakukan di simpang kardinah Kota Tegal, pelanggaran yang paling banyak dilakukan oleh masyarakat kota Tegal di simpang kardinah adalah melanggar marka utuh, penggunaan helm dan sabuk keselamatan. Marka merupakan suatu petunjuk bagi pengguna jalan dan biasanya merupakan penjelas bagi rambu yang ada disekitarnya, dikhawatirkan masyarakat belum mengetahui tantang rambu sehingga mereka juga belum mengeti tentang guna marka. Penggunaan perlengkapan keselamatan untuk berkendara juga masih kurang diperhatikan oleh masyarakat, terlebih untuk penggunaan sabuk keselamatan dan penggunaan helm.


Dari hasil survei pendahuluan perilaku pengguna jalan yang dilakukan di simpang kardinah Kota Tegal, menyatakan bahwa pelanggar berusia 36 – 45 merupakan terbanyak melakukan pelanggaraan, usia 46 – 55 tahun menyusul di tempat kedua sebagai usia paling banyak melakukan pelanggaraan yang menyatakan bahwa banyak pelanggaran, usia 26 – 35 tahun usia paling banyak melakukan pelanggaran lalu lintas ketiga. Untuk usia anak sekolah yaitu 5 – 11 tahun, 12 – 16 tahun, 17 – 25 tahun masing-masing prosentase pelanggaran yaitu 0%, 5% dan 6%. Pada usia 26 – 55 tahun banyak melakukan pelanggaraan lalu lintas, padahal pada usia tersebut sudah memiliki anak dan anaknya tersebut akan cenderung melakukan tindakan sesuai dengan perilaku orang tuannya, apabila anak tersebut berlalu lintas bersama orang tuanya, dan orang tuannya tersebut melakukan pelanggaran lalu lintas, kemungkinan besar anak tersebut juga akan mengikuti orang tuannya. Pada usia sekolah sudah mulai melanggar aturan lalu lintas, dikhawatirkan pelanggaran tersebut akan terus dilakukan.
Pertemuan 4 : Identifikasi Sasaran Kampanye Keselamatan Jalan

Identifikasi Sasaran Kampanye

Tujuan : Memahami identifikasi sasaran kampanye keselamatan jalan sesuai dengan tugas yang akan dikerjakan atau proyek yang akan dilakukan, serta dapat menyusun hasil dari identifikasi yang telah dilakukan, dan dapat merumuskan tujuan kampanye keselamatan jalan.

A.     Referensi
1. Materi sosialisasi keselamatan berlalulintas – kementrian perhubungan Dirjenhubdar.
2.   Panduan Keselamatan Jalan Modul 4-8
3.   Sosialisasi Keselamatan Jalan – PT TRIDAYA CIPTA UTAMA – PERHUBUNGAN DARAT 2008

B.     Identifikasi Sasaran Kampanye
identifikasi merupakan tahap penciptaan identitas kampanye yang dengan mudah dapat dikenali oleh khalayak. Hal yang umum digunakan untuk kampanye ,contohnya tentang pemilu atau juga kampanye keselamatan jalan dapat dengan  misalnya logo, lagu atau jingle dan slogan yang digunakan oleh semua partai atau pengisi kampanye. Atau juga dapaty diartikan Identifikasi Sasaran Kampanye adalah kegiatan yang dilakukan secara kelompok, untuk melakukan survey yang didahului dengan cara identifikasi mengenai profil dan tujuan dari sebuah kampanye yang akan dilakukan.

C.     Karakteristik Identifikasi Sasaran Kampanye
1.    Prinsip
2.    Teori
3.    Tujuan
4.    Metode
5.    Analisa

D.     Contoh Identifikasi Sasaran Kampanye Keselamatan Jalan
Penentuan tema dan sasaran kampanye keselamatan jalan yang diadakan di Rita Park kota Tegal yaitu dengan melakukan survei pendahuluan mengenai pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh masyarakat di Kota tegal. Sample yang digunakan untuk survei pendahuluan adalah di simpang kardinah kota Tegal. Simpang tersebut merupakan titik pertemuan arus dari Kota Tegal dan Kabupaten Tegal. Survei dilakukan pada jam 06.30 – 08.00 WIB dengan mantau dan mencatat pelanggaran yang dilakukan masyarakat di simpang tersebut. Anggota survei sendiri merupakan taruna Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan kelas MKTJ A. anggota kelas di bagi kedalam 4 (empat) kelompok, dan masing-masing kelompok bertugas dalam 1 kaki simpang, berikut merupaka data hasil survei pendahuluan.

Pelanggaran tidak menggunakan helm :






Dari hasil survei pendahuluan perilaku pengguna jalan yang dilakukan di simpang kardinah Kota Tegal, menyatakan bahwa pelanggar berusia 36 – 45 merupakan terbanyak melakukan pelanggaraan, usia 46 – 55 tahun menyusul di tempat kedua sebagai usia paling banyak melakukan pelanggaraan yang menyatakan bahwa banyak pelanggaran, usia 26 – 35 tahun usia paling banyak melakukan pelanggaran lalu lintas ketiga. Untuk usia anak sekolah yaitu 5 – 11 tahun, 12 – 16 tahun, 17 – 25 tahun masing-masing prosentase pelanggaran yaitu 0%, 5% dan 6%. Pada usia 26 – 55 tahun banyak melakukan pelanggaraan lalu lintas, padahal pada usia tersebut sudah memiliki anak dan anaknya tersebut akan cenderung melakukan tindakan sesuai dengan perilaku orang tuannya, apabila anak tersebut berlalu lintas bersama orang tuanya, dan orang tuannya tersebut melakukan pelanggaran lalu lintas, kemungkinan besar anak tersebut juga akan mengikuti orang tuannya. Pada usia sekolah sudah mulai melanggar aturan lalu lintas, dikhawatirkan pelanggaran tersebut akan terus dilakukan.
Dari hasil survei pendahuluan perilaku pengguna jalan yang dilakukan di simpang kardinah Kota Tegal, pelanggaran yang paling banyak dilakukan oleh masyarakat kota Tegal di simpang kardinah adalah penggunaan helm. Penggunaan perlengkapan keselamatan untuk berkendara juga masih kurang diperhatikan oleh masyarakat, terlebih untuk penggunaan helm. Untuk penggunaan helm, masyarakat belum mengerti cara memakai helm yang sesuai padahal dari komposisi kendaraan yang melewati simpang kardinah, peling banyak merupakan kendaraan sepeda motor, hal tersebut dikhawatirkan akan menambah deretan data keparahan korban kecelakaan semakin meningkat apabila pengendara sepeda motor mengalami kecelakaan Dari analisi tersebut ditentukan tema atau materi yang akan digunakan sebagai kampanye keselamatan adalah penggunaan helm dan rambu lalu lintas. Sasaran yang dituju adalah masyarakat, khususnya anak usia sekolah baik TK, SD, SMP dan SMA dan usia produktif. Acara tersebut juga bersamaan dan juga mamanfaatkan momentum hari anak nasional.

Jumat, 04 November 2016

BAHAYA MENGENAI PELANGGARAN PENUMPANG SEPEDA MOTOR PADA PERSIMPANGAN KARDINAH

Peta persimpangan kardinah

Pengguna kendaraan dari tahun ke tahun saat ini terus meningkat, jumlah kendaraan di Indonesia pada tahun 2013 mencapai 104,211 juta unit dan di dominasi oleh kendaraan bermotor dengan jumlah 86,256 juta unit di Indonesia, sedangkan  terutama kendaraan sepeda motor. Kota Tegal dengan luas wilayah 39,68 Kilometer Persegi dengan kepadatan penduduk perkilometer persegi adalah 6.173 jiwa/Km persegi merupakan kota yang lumayan padat dengan jumlah penduduk yang banyak yaitu mencapai 244.998 jiwa. Kota tegal memiliki jumlah perjalanan cukup banyak, karena kota tegal merupakan kota yang mempunyai banyak pabrik dan industri, dan kendaraan sepeda motor yang ada di kota tegal sendiri tercatat mencapai 21.577 unit  pada tahun 2013 (Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kota Tegal).
Persimpangan kardinah merupakan salah satu simpangan berAPILL yang berada di Kota Tegal. Persimpangan ini sangat padat  karena adanya aktifitas dari Rumah Sakit Kardinah, Pasar dan pertokoan yang berada di sisi jalan. Simpang ini terdiri dari Jalan Werkudara,  Jalan Sultan Agung ,Jalan KS. Tubun dan Jalan A.R Hakim. Hal ini dapat membahayakan keselamatan dan keamanan pengguna jalan dan mengganggu kelancaran dan keselamatan arus lalu lintas. Dalam survei yang dilakukan oleh Taruna Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan Tegal, Khususnya Taruna Desawa jurusan MKTJ didapatkan hasil dari pengamatan, yaitu banyaknya pelanggaran oleh pengguna jalan pada persimpangan kardinah sangat banyak terjadi, khususnya oleh kendaraan bermotor yang melintasi persimpangan tersebut, salah satunya adalah pelanggaran pengguna sepeda motor mengenai penggunaan helm dan jumlah penumpang yang melebihi ketentuan. Pada persimpangan kardinah banyak sekali ditemukan pelanggaran sepeda motor yang diantaranya mengenai :
1.    Penggunaan helm
2.    Jumlah penumpang yang melebihi ketentuan
Jumlah pelanggaran mengenai penggunaan helm sendiri pada persimpangan kardinah tercatat hingga 292 pelanggaran dalam waktu 1 jam survey yang telah dilakukan, dengan item pelanggaran diantaranya :
1.    Banyak helm yang (tidak terkunci atau di klik) dan banyak juga anak sekolah yang tidak memakai helm.
2.    Banyak pengguna sepeda motor yang membonceng lebih dari satu.

Berikut adalah sekilas potret dari pelanggaran dari pengguna sepeda motor :

Pelanggaran pembonceng yang tidak menggunakan helm

Pelanggaran pengguna sepeda motor yang membonceng melebihi ketentuan jumlah penumpang serta tidak memakai helm

Dapat dilihat dari keadaan yang ada seperti pada penjelasan dan  gambar diatas, dapat disimpulkan banyak sekali pelanggaran yang dilakukan oleh pengguna sepeda motor, hal tersebut beresiko pada pengguna sepeda motor yang tidak safety dan jika pengguna sepeda motor tersebut mengalami sebuah kecelakaan maka kemungkinan yang terjadi adalah cidera yang sangat parah dan dapat beresiko meninggal dunia, hal tersebut mengakibatkan kerugian yang sangat besar baik dari kerugian materi maupun kerugian non materi. Sehingga perlu adanya sebuah penanganan khusus guna menyadarkan masyarakat khususnya pengguna sepeda motor agar mengerti tentang bahayanya tidak memakai helm dan penumpang yang berlebihan. Seperti tujuan dari Rencana Umum Nasional Keselamatan (RUNK) yang didalamnya ada program Decade of Action for Road Safety (DOA), yaitu untuk menurunkan tingkat kecelakaan dan tingkat fatalitas korban kecelakaan di jalan raya, sehingga perlu adanya usaha untuk menyadarkan masyarakat yang belum megerti tentang aturan dan pentingnya keselamatan dijalan, terutama pengguna sepeda motor. Cara untuk menyadarkan masyarakat tentang keselamatan menggunakan sepeda motor dan aturannya maka dapat dilakukan dengan sebuah kampanye. Rogers dan Storey (1987) mendefinisikan kampanye sebagai “serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan untuk menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu” (Venus, 2004:7).
Dalam upaya untuk menyadarkan pelanggaran pengguna sepeda motor, khususnya pelanggaran yang banyak terjadi di persimpangan kardinah kota tegal yaitu tentang penggunaan helm dan jumlah penumpang yang melebihi ketentuan, dapat dilakukan kampanye keselamatan jalan yang dapat menyadarkan dan menurunkan jumlah pelanggaran, diantaranya kampanye dengan cara :

1.    Kampanye sosialisasi tentang penggunaan helm kepada masyarakat dengan cara pembagian helm gratis serta sekaligus memberikan himbauan dan pengertian tentang pentingnya keselamatan dijalan yang dilakukan oleh Dinas Perhubungan, Kepolisian, dan dari Taruna Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan Tegal.


  Pembagian Helm oleh para petugas dan oleh Taruna Politeknik Keselamatan Jalan Tegal kepada masyarakat pengguna sepeda motor.

2.    Kampanye keselamatan jalan yang dilakukan pada acara Car Free Day yang biasanya dilakukan di alun-alun di beberapa kota, yang diisi dengan cara games keselamatan, kuis, dan penjelasan mengenai bahayanya berperilaku tidak berkeselamatan di jalan dan penggunaan fitur keselamatan yang penting seperti helm SNI dan diklik, sarung tangan, jaket serta sepatu. Berikut adalah contoh kampenya keselamatan yang dilakukan oleh Taruna Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan yang dilakukan di Alun-Alun Kota Tegal guna menyadarkan masyarakat akan pentingnya berperilaku berkeselamatan di jalan.

Acara CFD di alAlun-alun Kota Tegal

3.    Kampanye sosialisasi yang dilakukan kepada para anak TK dan SD tentang perilaku berlalu lintas yang selamat dan aman di jalan, yaitu dengan cara pengenalan penggunaan helm, rambu-rambu lalu lintas, marka jalan, APILL, serta cara yang aman saat berada dijalan.

Pengenalan tentang rambu, marka, APILL, dan cara berkendara di jalan

Kesimpulan dari penjelasan diatas adalah, kurangnya kesadaran masyarakat pengguna sepeda motor akan risiko penggunaan helm yang tidak benar atau bahkan tidak menggunakan helm dan bahaya membonceng melebihi kapasitas. Oleh karena itu, untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan karena pelanggaran tersebut perlu diadakannya kampanye sosialisasi keselamatan jalan kepada masyarakat luas di kalangan semua usia mulai dari usia dini.


Referensi :
BUS RAPID TRANSIT (BRT)


I.          Sejarah BRT
Pengembangan  pertama dalam skala besar dari layanan bus ekspress dimulai di Curitiba (Brazil) pada tahun 1974, tetapi ada beberapa proyek-proyek kecil sebelum pembangunan itu. Sejak itu, pengalaman Curitiba telah meberikan inspirasi pada kota-kota lain untuk mengembangkan sistem serupa. Pada tahun 1970-an, pengembangan sistem BRT telah terbatas pada Amerika Utara dan Selatan. Pada akhir tahun 1990-an, reproduksi konsep BRT mulai tumbuh kembali dan di buka di Quito-  Ekuador pada tahun 1996, Los Angeles-  USA pada tahun 1999 dan Bogota  –  Kolombia pada tahun 2000. Diatas semua, proyek TransMilenio di Bogota mulai beroperasi pada tahun 2000 dan keberhasilan nya telah menarik perhatian masyarakat internasional sebagai contoh sistem BRT.

Di Asia, sebelum tahun 2000, percobaan BRT sangat terbatas ada jumlah dan cakupannya. Sistem BRT di Nagoya-  Jepang dan Tai pe  –  China telah dianggap sistem yang relative lengkap dikawasan Asia (Wright, 2005). Penyebaran BRT di Asia menjadi lebih jelas sejak tahun 2004. Pada tahun 2004, jalur bus Transjakarta mulai beroprasi dari Blok M menuju Kota. (Hook dan Ernst, 2005). Pada  tanggal 1 Juli 2004, 3 koridor BRT sepamjang 37 km telah dibangun di Seoul  –  Korea Selatan (Pucher dan al. 2005). Pada tangal 25 Desember 2004, tahap pertama komersial BRT diluncurkan di Beijing –  China sepanjang 5 km (Chang, 2005). Di Bangkok, proyek BRT telah diumumkan pada tahun 2004 oleh Gubernur baru di Bangkok Administration (BMA), dan dibuka pada Oktober 2005.

Meskipun ada beberapa kebingungan di Indonesia dan Seoul, dimana jalur diperkenalkan, BRT di Jakarta, Seoul dan Beijing telah menunjukkan beberapa keberhasilan dan sistem ini terus dikembangkan dan dimodernisasi. Jumlah kota yang mengembangkan atau menerapkan BRT terus semakin meningkat. Di Cina, BRT telah di buka di Hangzhou pada April 2006. Menurut sebuah website dengan CAI-Asia (2006), layanan BRT sedang direncenakan atau sedang dibangun di 18 kota. Perlu dicatat bahwa sistem BRT di Asia mempunyai kesamaan dengan sistem BRT di Curitibia dan Bogota. Bahkan ada catatan bahwa ada komunitas antara kota-kota Asia dan Amerika Latin mengunjungi Kota, seperti Gubernur DKI Jakarta ke Bogota pada mei 2003.

II.          Pengertian BRT
Bus Rapid Transit  (BRT) merupakan sebuah sistem  transportasi publik dengan menggunakan bus yang  mengintegrasikan perbaikan modal dan operasional untuk  dapat memberikan  pelayanan yang lebih cepat dan lebih berkualitas dibandingkan jalur bus standar pada umumnya  (Carey, 2002).  Definisi yang lebih detil dikembangkan dalam proyek  Transit Cooperative Research Program  (TCRP) A-23, yakni  BRT merupakan sebuah mode transit cepat  yang fleksibel menggunakan ban karet yang mengkombinasikan stasiun (halte), kendaraan, pelayanan, jalur khusus, dan elemen dari  Intelligent Transportation System  (ITS) ke dalam suatu sistem yang terintegrasi dengan identitas yang kuat (Levinson, 2002). Tujuan dari sistem transportasi BRT adalah untuk mencapai kualitas layanan seperti pada transportasi dengan kereta api sementara masih dapat menikmati penghematan biaya dan fleksibilitas pada BRT (Kristijo, 2011). Berikut adalah beberapa definisi tentang Bus Rapid Transit menurut para ahli, antara lain :
1.   “Bus Rapid Transit  (BRT) adalalah suatu flesibel, moda dengan roda karet  yang mempunyai transit yang cepat dan  yang dikombinasikan station (halte), kendaraan, pelayanan, jalan dan elemen  Intelligent Transportation System  (ITS) dalam satu sistem yang terintegrasi dengan identitas yang kuat.”(Levinson etal.2003, p.12).
2.  “Bus Rapid Transit  (BRT) adalah berkualitas tinggi, transit orientasi klien yang menawarkan kecepatan, nyaman, dan harga yang terjangkau.”(Wright, 2003, p. 1).
3. “Bus Rapid Transit  (BRT) adalah suatu moda transportasi yang cepat yang mengkombinasikan kualitas transportasi kereta dan flesibiltas bus.’(Tomas, 2001).

     Semua definisi ini menetapkan  Bus Rapid Transit  (BRT) terpisah dengan pelayanan bus konvensional. Bahkan, definisi cenderung menunjukkan bahwa BRT banyak kesamaan dengan sistem berbasis rel, terutama dalam hal kinerja operasi dan pelayanan terhadap penumpang. BRT telah berusaha mengambil aspek sistem LRT dan metro dan paling disayangi oleh pelanggan angkutan umum dan membuat atribut-atribut lebih untuk mudah diakses berbagai kutipan lebih luas. Perbedaan utama antara BRT dengan sistem rel pada perkotaan adalah bahwa BRT biasanya dapat memberikan layanan transportasi umum dengan kualitas yang tinggi dan dengan biaya yang mudah terjangkau oleh masyarakat. Sistem transportasi menggunakan BRT masih tergolong baru, dan mulai berkembang dengan pesat di beberapa kota besar dan negara berkembang di dunia. Tabel 1.1 di bawah ini menunjukkan implementasi BRT pada negara berkembang yang dikutip dari Menckhoff (2006) dalam Kristijo (2011).

Berikut adalah Tabel Implementasi BRT pada Negara Berkembang :
No
Kota
Tahun Berdiri
Populasi (juta jiwa)
Panjang Jalur (km)
1
Curitiba (Brazil)
1974
3,2
65
2
Goiania (Brazil)
1976
1,3
35
3
Quito (Ecuador)
1995
1,6
33
4
Bogota (Colombia)
2000
6,7
85
5
Leon (Mexico)
2003
4,1
26
6
Mexico City
2005
8,8
20
7
Jakarta (Indonesia)
2004
9,5
46
8
Beijing (China)
2005
22,0
16
9
Hangzhou (China)
2006
6,8
10

Berdasarkan Tabel diatas menunjukkan bahwa Indonesia mulai mengimplementasikan sistem BRT pada tahun 2004 di kota Jakarta yang disebut dengan TransJakarta. Pada tahun 2008, sistem BRT mulai diimplentasikan di kota Yogyakarta dengan nama Trans Jogja. Kegiatan operasional bus Trans Jogja dikelola oleh PT Jogja Tugu Trans.  Pembangunan Trans Jogja dirasa penting dan mendesak karena sistem transportasi Yogyakarta dan sekitarnya sebelumnya dinilai tidak efisien (Wijayanto, 2012).

III.          Kelebihan dan Kekurangan BRT
Ø  Kelebihan :
1)  Tarif ongkos murah
Bus Transjakarta adalah salah satu transportasi umum yang ongkosnya murah. Bayangkan hanya dengan uang Rp 3500,- saja sudah bisa keliling kota Jakarta, tetapi tidak boleh keluar dari halte. Kalau kita sempat keluar kita harus membeli tiket lagi karena tiket berlaku untuk sekali perjalanan. Untuk bisa keliling kota Jakarta kita harus transit dari satu halt eke halte lain.
2)  Mendapatkan perlakuan istimewa
Coba kita perhatikan, hanya di bus yang satu ini para wanita, lansia, ibu hamil dan orang cacat yang mendapat perlakuan istimewa. Coba bandingkan dengan bus lain, untuk tempat duduk “siapa cepat dia dapat”. Begitulah kenyataan yang ada menurut masyarakat Jakarta yang menggunakan jasa transportasi umum.
3)  Keamanan dan keselamatan lebih terjamin
Di dalam bus Transjakarta dilengkapi dengan kamera CCTV  sehingga dapat membantu untuk mengontrol tindakan-tindakan kejahatan  di dalam bus. Selain itu juga ada petugas jaga di depan pintu untuk mengingatkan rute-rute perjalanan yang akan dituju serta membantu penumpang yang mau keluar dan masuk ke dalam bus. Keselamatan di dalam bus ini lebih terjamin karena mempunyai jalur tersendiri saat beroperasi di jalan. Kecelakaan tabrakan dengan kenderaan lain sedikit kemungkinannya karena mempunyai jalur khusus.
4)  Dibangun untuk masyarakat umum
Semua orang baik yang ekonomi bawah, menengah dan atas dapat menikmati  jasa transportasi ini karena ini memang dikhususkan untuk umum.  Setiap konsumen mendapatkan perlakuan yang sama, tidak mengenal adanya istilah rasisme.
5)  Mendapatkan kenyamanan selama di dalam bus
Di dalam bus Transjakarta para penumpang merasa nyaman karena di dalam bus dilengkapi dengan Air conditioner sehingga penumpang tidak merasa gerah selama berada di dalam bus. Selain itu, pintu bus juga merupakan pintu otomatis, pramudi hanya perlu menekan tombol open dan lock maka pintu pun akan terbuka otomatis.

Ø  Kekurangan :
1)  Frekuensi waktu menunggu cukup lama
Di saat menunggu bus tiba di halte bisa memakan waktu yang lama berkisara antara 15-30 menit. Jadi bila kita manfaatkan waktu tersebut untuk mendengarkan  MP3, ya sekitar 5-10 lagu sempat terputar.
2)  Armadanya perlu diperbanyak
Untuk  jam-jam sibuk di Jakarta biasanya penumpang busway overload (kelebihan muatan) sehingga penumpang harus bersempit-sempitan di dalam bus. Jadi perlu dilakukan penambahan armada bus mengingatnya kelebihan muatan pada saat jam-jam sibuk.
3)  Sterilisasi pembangunan busway perlu ditingkatkan
Jika ada pembangunan atau perenovasian busway (jalur bus) perlu langsung dibersihkan segera agar tidak mengurangi keindahan dan kebersihan kota Jakarta. Selain itu juga agar tidak mengganggu kenderaan lain yang hendak lewat.

Referensi :
1.    Mokhammad Nasrulloh, FT UI, 2010.
2.    Strawberrycreampuff.wordpress.com
3.    Anasaff.blogspot.com
4.    Dishub.jabarprov.go.id

5.    Etd.repository.ugm.ac.id